Saturday, October 20, 2012

Sedikit yang Gue Tahu tentang Kak Ogie

Lagi terkantuk-kantuk sambil tidur-tiduran di tempat tidur kosan, tiba-tiba jadi nggak ngantuk lagi begitu denger kabar duka dari seorang kakak kelas gue waktu SMA dulu.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Saugie Yokka, alumnus SMA Islam Al-Azhar 1 Jakarta angkatan #32 (2010). Semoga kak Ogie diterima dan tenang di sisi Allah SWT.

Selama SMA, gue memang nggak begitu kenal sama kak Ogie. Yang gue tau, dulu dia mantan salah seorang temen sekelas gue waktu kelas 1 SMA. Dia juga ketua ekskul fotografi di sekolah gue. Dia juga aktif di MPK dan menjabat sebagai pengurus MPK di sekolah gue. Gue inget pas gue pertama kali ikut ekskul fotografi, dia pernah ngajarin gue dan beberapa temen gue tentang apa itu aperture, shutter speed, dan lain-lain. Dia ngajarin gue dan temen-temen gue yang pemula ini dengan sabar banget. Dari cara ngajarinnya, kelihatan banget dia emang punya passion disitu.

Di pertengahan kelas 1 SMA, gue denger kabar dia kena kanker tulang. Shock, itulah reaksi pertama gue. Gue bener-bener nggak nyangka seorang anak SMA bisa kena kanker tulang. Bagi gue, seorang yang waktu itu kira-kira berumur 17 tahun terlalu muda untuk kena kanker tulang. Tapi, mau gimana lagi? Namanya juga takdir.

Gue denger cerita waktu itu dia bolak-balik Singapura-Jakarta untuk pengobatan kankernya. Dia akhirnya menetap di Singapura untuk beberapa waktu supaya bisa sembuh total. Di pengujung tahun ajaran 2009/2010, kak Ogie akhirnya pulang. Kak Ogie yang memang kurus jadi semakin kurus karena efek pengobatan. Dia balik ke sekolah dengan duduk di atas kursi roda.

Walaupun duduk di atas kursi roda, dia masih sekolah dan dia masih tetep sholat. Setelah sholat, guru-guru ngasih sambutan selamat datang kembali. Kita semua, jamaah sholat dzuhur waktu itu, ngasih tepuk tangan yang meriah untuk dia supaya dia semangat untuk ngejar ketinggalannya di sekolah dan semangat terus untuk ngejalanin hari-harinya setelah sembuh dari penyakitnya.

Walaupun sempet ninggalin pelajaran selama berbulan-bulan, he managed to graduate on time. Tahun 2010, dia akhirnya lulus. Ternyata, waktu wisuda, dia dapet penghargaan "inspirational student" karena perjuangannya melawan penyakit kankernya tapi tetep berhasil untuk lulus SMA tepat waktu.

Setelah Kak Ogie lulus SMA, gue nggak pernah denger lagi kabar tentang dia. Sampai akhirnya sekitar bulan Juli 2012, beberapa temen dan kakak kelas gue ngirimin broadcast message tentang keadaan kak Ogie waktu itu, bantuan secara psikologis, dan bantuan untuk mengadakan donor darah untuk dia. Ternyata kankernya kambuh lagi dan keadaannya jadi semakin parah. Gue malah sempet denger kabar kakinya terpaksa diamputasi karena kankernya. Karena kabarnya pengamputasian kakinya baru sekedar rumor aja, gue masih skeptis dan masih nggak percaya dengan kabar itu.

Kak Ogie ternyata emang diamputasi kakinya karena kankernya udah terlalu parah. Waktu buka puasa angkatan #33 bulan Juli lalu, salah seorang temen gue yang satu jurusan dengan kak Ogie nggak ikut acara itu. Dia ternyata buka puasa di rumah kak Ogie sama temen-temen Arsitektur UI 2011-nya. Temen deketnya pun cerita ke gue tentang keadaan kak Ogie dan kenapa dia nggak bisa dateng. Lagi-lagi gue shock denger cerita temen gue. Keadaan kak Ogie emang udah bener-bener parah banget. Gue cuma bisa berdoa supaya dia sembuh, atau paling nggak diberikan yang terbaik sama Allah SWT.

Beberapa hari yang lalu, gue dapet BM lagi dari beberapa temen dan kakak kelas gue. Isinya tentang sebuah blog yang menceritakan kronologis penyakit kak Ogie dan perjuangannya. Abis begadang ngerjain tugas (anak Jurnal banget sih...), gue iseng buka blog itu.  Gue bener-bener nggak nyangka kanker yang dulu dia derita balik lagi nyerang tubuhnya dan menyerangnya lebih parah. Gue baca blog itu dengan sedih dan lagi-lagi berdoa dalam hati supaya kak Ogie diberikan yang terbaik sama Allah SWT.

Kurang lebih 2-3 hari setelah gue baca blog tentang kak Ogie dan penyakitnya, tadi sore, sekitar jam 3.30, gue dapet kabar kak Ogie meninggal. Gue yang terkantuk-kantuk karena harus bangun pagi-pagi banget buat ospek jurusan tadi pagi sebenernya udah hampir tidur siang, tapi sebelum tidur iseng buka-buka recent updates di HP. Ngantuk gue langsung ilang begitu liat personal message temen gue. Isinya "RIP Saugie Yokka". Gue langsung melotot dan langsung browsing untuk cari-cari info tentang meninggalnya kak Ogie. Ternyata memang bener. Kak Ogie akhirnya menyelesaikan pertarungannya dengan kanker yang dia idap selama 4 tahun dan dipanggil ke sisi Allah SWT.

Memang gue nggak begitu kenal sama kak Ogie, tapi gue rasa, gue perlu nulis post ini. Walaupun nggak deket sama almarhum, setidaknya dia meninggalkan bekas di memori gue. Gue rasa ceritanya perlu disampaikan di sini, sebatas menyampaikan cerita tentang seorang yang gue kenal yang perjuangannya patut dicontoh dan juga pandangan gue tentang almarhum.

Selamat jalan, kak Ogie. Semoga semua amal ibadah kak Ogie diterima di sisi-Nya dan diberikan tempat yang terbaik di alam selanjutnya....



Cerita tentang perjuangan kak Ogie, bisa dibaca di sini.

Wednesday, October 10, 2012


Oleh: Riska Rahman

Sebuah restoran di daerah Senopati, Jakarta Selatan terlihat ramai. Beberapa mobil parkir di depan dan di samping restoran. Di dalam restoran, terdapat beberapa muda-mudi duduk sambil menyuruput minuman dan memotong steak sembari menunggu dua band yang dijadwalkan akan bermain malam itu. Stars and Rabbit yang terdiri dari Elda Suryani dan Adi Widodo dijadwalkan bermain dalam acara Interlude bersama Float, band asal Bandung.
Band yang berdiri di awal tahun 2011 ini memang bernama unik. Kedua kata yang dijadikan nama band oleh dua orang asal Yogyakarta ini terkesan ceria dan bahagia karena menggabungkan dua benda yang sering diidentikkan dengan keceriaan. Padahal, mereka tidak bermaksud untuk memberi nama tersebut untuk musik mereka. “Nggak ada arti fundamental dan mengerikan dibalik nama band kita,” ujar Elda ketika ditanyakan tentang filosofi nama bandnya. “Daripada dikasih nama ‘Widodo dan Suryani’ mending pake nama akun twitterku aja.”
Karakteristik vokal Elda sangatlah menarik. Ia memiliki suara layaknya suara anak kecil. Ia mengaku bahwa suara seperti itu datang secara alami tanpa dibuat-buat. “Kalau dibuat-buat gaya nyanyi seperti itu capek, lho,” jawabnya jujur. Ia mulai menyadari gaya menyanyi yang sebenarnya saat ia mulai membuat lagu sendiri dan menyanyikannya sehingga jadilah warna vokal yang unik seperti sekarang.
Gaya menyanyi yang unik membuat Elda dijuluki oleh beberapa penggemarnya sebagai Bjork, penyanyi asal Islandia, versi Indonesia. “Ngeri!” respon Adi saat mendengar pernyataan tersebut. Elda sendiri tidak setuju dengan pernyataan peng         gemarnya. Menurutnya, Bjork adalah seorang penyanyi yang sama sekali tidak ada saingannya. Namun, menurut Adi, gaya menyanyi Elda lebih mirip ke gaya menyanyi Frente dibanding Bjork. “Pas aku nonton Frente terus aku memejamkan mata, aku ngeliatnya dia (Elda) yang nyanyi,” ungkap Adi.
Walaupun memiliki suara yang imut-imut, lirik lagu Stars and Rabbit tidaklah ringan. Kebanyakan lagu mereka mendapat inspirasi dari kehidupan Elda. Ini jugalah yang mempengaruhi warna musik mereka. Saat memulai proyek Stars and Rabbit bersama Adi, Elda mengaku ia sedang mengalami fase bawah dalam kehidupannya. Dari situ, ia mulai menulis lirik-lirik lagu lalu membawanya ke Adi yang bertugas sebagai arranger musik. Adi lalu mulai menginterpretasikannya sesuai dengan mood dari lirik lagu yang diciptakan oleh Elda.
Saat ditanyakan tentang bagaimana definisi mereka terhadap musik Stars and Rabbit, mereka berdua terlihat kebingungan. Pasalnya, mereka tidak pernah mencoba untuk mendefinisikan ataupun mengkotakkan musik mereka ke dalam sebuah genre musik. Mereka masih belum bisa untuk mendefinisikan musik mereka karena Elda dan Adi adalah orang-orang yang ada didalamnya.
Walaupun bingung mendefinisikan musiknya sendiri, Elda mengaku dengan musiknya ia menjadi lebih mengenal dirina sendiri. “I get to know myself better dengan Stars and Rabbit. Baginya, musik Stars and Rabbit sangatlah personal. Stars and Rabbit merupakan cerminan dirinya sendiri.
Bagi band baru seperti Stars and Rabbit yang baru terdiri dari dua orang ini, impian mereka adalah untuk memiliki additional player yang dapat bergabung dengan band. Bagi mereka, koneksi emosional antara personil band merupakan hal yang sangat penting. Mereka sangat mengutamakan rasa nyaman dalam bermusik. Selain koneksi emosional dengan personil band, menuru Elda, additional player yang nantinya akan bergabung dengan Stars and Rabbit juga harus dapat merasa nyaman dengan lagu-lagunya karena lagu-lagu Stars and Rabbit memiliki arti yang sangat personal untuk kedua anggota band.
Jika sudah memiliki album dan personil tambahan yang tetap, Elda dan Adi ingin mengadakan konser tunggal dimana seluruh penontonnya sudah mengetahui siapa Stars and Rabbit dan bagaimana musik mereka. Saat ini, mereka berdua masih berjuang untuk memperkenalkan musik mereka dibawah nama Stars and Rabbit. Untuk impian jangka panjang, Elda membayangkan dirinya bersama Stars and Rabbit melakukan tur dan bermain di festival-festival musik berskala nasional maupun internasional. Adi sendiri membayangkan dirinya bermain di Barcelona, Spanyol diatas panggung yang sama dengan Coldplay. “Mungkin karena aku suka bola kali, ya jadi pingin main di Barcelona,” ujarnya sambil tersenyum.
Karakteristik vokal Elda yang unik serta petikan gitar nan indah dari Adi menjadikan musik dari Stars and Rabbit patut didengarkan oleh penggemar musik, khusunya penggemar genre folk pop. Lagu-lagu yang enak didengar dengan lirik yang dalam menjadikan musik mereka patut untuk diacungi jempol. Musik Stars and Rabbit juga menjadi bukti bahwa musik indie Indonesia merupakan musik yang bermutu dan layak bersaing dengan musik-musik mainstream

*Credit for photo editing and header for this post goes to @nurkhansa*
**Tulisan ini telah dimuat di tabloid Spoon yang dibuat untuk memenuhi nilai sebuah mata kuliah di kampus, dengan perubahan. Kali ini, dimuat lagi untuk mengikuti kuis #Note2Write @Samsung_ID**